Minggu, 09 April 2017
Aflatoxin dan kesehatan
Aflatoxin dan kesehatan
Aflatoxinadalah toxin atau racun yang dihasilkan oleh jamur terutama jenis aspergillus,dan yang paling terkenal adalah jenis aspergilus flavus dan a. parasiticus.
Penyakit yang ditimbulkan oleh keracunan aflatoxin dinamakan aflatoxicosis.
Aflatoxin bersifat beracun dan diketahui juga bersifat carcinogenic, yaitu bisa menimbulkan penyakit kanker pada manusia, yaitu kanker hati atau carcinoma liver.
Biji-bijian yang paling tinggi resikonya terkena serangan aflatoxin adalah : jagung, kacang tanah, cottonseed.
Aflatoxin kadang-kadang ditemukan di produk : susu, keju, jagung, kacang tanah, cottonseed, kacang, almond, ara, rempah-rempah atau makanan ternak.
Susu, telur dan daging , kadang-kadang terkontaminasi oleh aflatoxin, dikarenakan hewan ternak mengkonsumsi biji-bijian yang terkontaminasi oleh aflatoxin.
Banyak faktor dalam hal pertumbuhan jamur aspergillus penghasil aflatoxin. Sebagai contoh , serangan aflatoxin pada jagung dan kacang tanah pada waktu sebelum panen disebabkan karena faktor : suhu lingkungan yang panas, musim kering yang panjang, aktifitas serangga yang tinggi.
Sementara serangan aspergillus pada gudang penyimpanan jagung dan kacang tanah disebabkan karena : temperatur hangat dan kelembaban yang tinggi.
JENIS AFLATOXIN
Di alam diperkirakan ada 14 jenis type aflatoxin. Aflatoxin B1adalah toxin yang paling beracun dan dihasilkan oleh jamur aspergillus flavus dan parasiticus. Sehingga IARC mengklasifikasikan aflatoxin B1 sebagai human carcinogen.
Hasil penelitian medis menunjukkan konsumsi makanan tertentu seperti: wortel, seledri , bisa mengurangi efek carcinogenic dari aflatoxin.
Rabu, 05 April 2017
Kandungan dan nilai gizi tahu
Kandungan
dan nilai gizi tahu
Tahu merupakan makanan
hasil olahan dari sari kedelai yang banyak mengandung gizi untuk mencukupi
kebutuhan gizi harian masyarakat dari golongan menengah kebawah sampai golongan
menengah keatas. Tiap 100gram tahu menyediakan energi sebesar 68 kkal, jumlah kandungan
protein tahu 10,9 gram, kandunganlemak 4,6 gram, karbohidrat 1,6 gram, kalsium
223 miligram, fosfor 183 miligram, zat besi 2,4 miligram, kandungan vitamin B1
0,06 miligram. Manfaat kandungan gizi tahu mengurangi resiko penyakit jantung.
Penyakit jantung disebabkan karena tingginy kadar kolesterol dalam darah akibat
asupan makanan yang banyak mengandung kolesterol atau lemak jenuh yang sulit
diurai didalam tubuh. Sehingga tahu menjadi alternatif pengganti daging yang
banyak mengandung protein nabati dan lemak tak jenuh sehingga dapat membantu
menurunkan kolesterol. Asupan rutin protein nabati dapat membantu menurunkan
kolesterol jahat. Oleh karena itu tahu merupakan panganan yang sangat aman bagi
kesehatan jantung.
Kandungan
asam amino (protein) tahu sangat penting untuk masa pertumbuhan anak-anak dan
remaja. Tahu juga mengandung isoflavon yang dapat mengurangi resiko kanker.
Isoflavon sering disebut phytoestrogen. Zat ini merupakan flavonoid yang
melindungi tubuh dari racun. Iso flavon selain dapat mencegah kanker payudara
dan kanker paru-paru, isoflavon juga dapat pemperlambat proses penuaan pada
perempuan. Isoflavon juag dapat menurunkan kolesterol dan selain itu juga bagus
untuk pengobatan gejala menopause karena memiliki sifat yang mirip dengan estrogen.
Rabu, 27 Juli 2016
UNSOED
Jl. Dr. Soeparno kampus Karangwangkal Purwokerto 53122
Telp. 0281-642840; Email: farmasi.unsoed.gmail.com
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI 1 :
KESANGGUPAN KARDIVASKULER DAN TEKANAN DARAH
MATA KULIAH :
ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA
Nama asisten :
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Judul Praktikum Kesanggupan kardiovaskuler dan tekanan darah
B. Waktu, Tanggal Praktikum Waktu : 15.00 – 16.50 WIB Hari, Tanggal : Sabtu, 24 November 2012
C. Tujuan Praktikum 1. Mengetahui cara-cara pengukuran tekanan darah arteri secara langsung pada manusia serta memahami faktor-faktor yang mempengaruhinya; 2. Mengukur tekanan darah A.brachialis dengan cara auskultasi; 3. Menyebutkan nilai tekanan darah A.brachialis menurut metode lama dan metode baru American Heart Association (AHA); 4. Membandingkan tekanan darah arteri brachialis pada sikap berbaring, duduk, dan berdiri; 5. Menjelaskan perbedaan hasil pengukuran tekanan darah pada sikap berbaring, duduk, dan berdiri; 6. Membandingkan tekanan darah A.brachialis pada berbagai kerja; 7. Mengetahui pengaruh pernafasan dan aliran balik vena terhadap tekanan darah; 8. Mengetahui kesanggupan kardiovaskuler seseorang.
D. Dasar Teori
A. Tekanan arteri pada manusia
1. Pengertian Tekanan darah arteri seperti yang kita ketahui tekanan dalam tubuh manusia terbagi menjadi tekanan darah vena dan tekanan darah arteri. Tekanan darah arteri adalah tekanan yang terjadi pada pembuluh darah arteri dan merupakan proses utama dalam mengedarkan darah ke seluruh jaringan tubuh. Tekanan darah dalam tubuh manusia biasanya diukur berdasarkan dua ukuran. Itulah kenapa ketika mengukur tekanan darah kita akan mendapati dua angka seperti 90/80. Angka tersebut sebenarnya menunjukan 2 tekanan darah yang terjadi dalam pembuluh darah manusia. Angaka pertama dalm ukuran tekanan darah merupakan tekanan darah atas atau tekanan sistolik (Redaksi, 2012). Tekanan sistolik adalah tekanan darah arteri yang diakibatkan oleh aktivitas jantung ketika melakukan pemompaan darah. Sedangkan angka kedua pada ukuran tekanan darah menunjukan tekanan bawah atau tekanan distolik. Tekanan ini menunjukan tekanan pada jantung ketika jantung beristirahat diantara proses pemompaan darah (Redaksi, 2012).
2. Kelainan tekanan darah Kelainan pada tekanan darah arteri dibagi ke dalam dua jenis yaitu tekanan darah tinggi dan tekanan darah rendah. Kedua tekanan darah ini terjadi ketika ketika tekanan darah arteri melebihi atau kurang dari tekanan darah yang normal pada manusia yaitu 90/60 sampai 120/80 mmHg. Tekanan darah rendah biasanya kurang dari 90/60 mmHg. Walaupaun sering diabaikan tapi tekana darah rendah juga bisa mengakibatkan kerusakan pada fungsi organ vital dalam tubuh. Hal ini disebabkan tekanan darah arteri dan vena terlalu lemah untuk menyebarkan oksigen atau nutrisi ke seluruh jaringan organ tubuh. Sehingga organ tidak mendapatkan cukup oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk berfungsi secara normal (Redaksi, 2012).
3. Faktor - Faktor Tekanan Darah
1. Faktor Jenis Kelamin Terdapat beberapa penelitian yang mengungkapkan perbedaan jenis kelamin berpengaruh terhadap kerja sistem kardioaskuler. Dibandingkan dengan laki-laki dengan usia yang sama, wanita premenopause memiliki massa ventriel kiri jantung yang lebih kecil terhadap body mass ratio, yang mungkin mencerminkan afterload jantung yang lebih rendah pada wanita. Hal ini mungkin akibat dari tekanan darah arteri yang lebih rendah, kemampuan complince aorta yang lebih besar dan kemampuan peningkatan penginduksian mekanisme vasodilatasi (Anggita, 2012). Perbedaan ini dianggap berhubungan dengan efek protektif estrogen dan mungkin dapat menjelaskan mengapa pada wanita premenopause memiliki resiko lebih rendah menderita penyakit kardiovaskular. Tetapi, setelah menopause perbedaan jenis kelamin tidak akan berpengaruh pada kemungkinan terderitanya penyakit kardiovaskular. Hal ini mungkin disebabkan karena berkurangnya jumlah estrogen pada wanita yang sudah menopause (Anggita, 2012).
2. Faktor Gravitasi Tekanan darah akan meningkat dengan 10 mmhg setiap 12 cm di bawah jantung karena pengaruh gravitasi. Di atas jantung, tekanan darah akan menurun dengan jumlah yang sama. Jadi dalam keadaan berdiri, maka tekanan darah sistole adalah 210 mmHg di kaki tetapi hanya 90 mmHg di otak. Dalam keadaan berbaring kedua tekanan ini akan sama (Anggita, 2012). Tekanan darah dalam arteri pada orang dewasa dalam keadaan duduk atau posisi berbaring pada saat istirahat kira-kira 120/70 mmHg. Karena tekanan darah adalah akibat dari curah jantung dan resistensi perifer, maka tekanan darah dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang mempengaruhi setiap atau dan isi sekuncup. Besarnya isi sekuncup ditentukan oleh kontraksi miokard dan volume darah yang kembali ke jantung (Anggita, 2012). a. Berbaring Ketika seseorang berbaring, maka jantung akan berdetak lebih sedikit dibandingkan saat ia sedang duduk atau berdiri. Hal ini disebabkan saat orang berbaring, maka efek gravitasi pada tubuh akan berkurang yang membuat lebih banyak darah mengalir kembali ke jantung melalui pembuluh darah. Jika darah yang kembali ke jantung lebih banyak, maka tubuh mampu memompa lebih banyak darah setiap denyutnya. Hal ini berarti denyut jantung yang diperlukan per menitnya untuk memenuhi kebutuhkan darah, oksigen dan nutrisi akan menjadi lebih sedikit (Anggita, 2012). Pada posisi berbaring darah dapat kembali ke jantung secara mudah tanpa harus melawan kekuatan gravitasi. Terlihat bahwa selama kerja pada posisi berdiri, isi sekuncup meningkat secara linier dan mencapai nilai tertinggi pada 40% -- 60% VO2 maksimal. VO2 max adalah volume maksimal O2 yang diproses oleh tubuh manusia pada saat melakukan kegiatan yang intensif. Pada posisi berbaring, dalam keadaan istirahat isi sekuncup mendekati nilai maksimal sedangkan pada kerja terdapat hanya sedikit peningkatan. Nilai pada posisi berbaring dalam keadaan istirahat hampir sama dengan nilai maksimal yang diperoleh pada waktu kerja dengan posisi berdiri. Jumlah isi sekuncup pada orang dewasa laki-laki mempunyai variasi antara 70 -- 100 ml. Makin besar intensitas kerja (melebihi batas 85% dari kapasitas kerja) makin sedikit isi sekuncup; hal ini disebabkan memendeknya waktu pengisian diatole akibat frekuensi denyut jantung yang meningkat (bila mencapai 180/menit maka 1 siklus jantung hanya berlangsung selama 0,3 detik dan pengisian diastole merupakan bagian dari 0,3 detik tersebut) (Ganong, 2002). b. Berdiri Detak jantung akan meningkat saat seseorang berdiri, karena darah yang kembali ke jantung akan lebih sedikit. Kondisi ini yang mungkin menyebabkan adanya peningkatan detak jantung mendadak ketika seseorang bergerak dari posisi duduk atau berbaring ke posisi berdiri (Ganong, 2002). Pada posisi berdiri, maka sebanyak 300-500 ml darah pada
pembuluh ”capacitance” vena anggota tubuh bagian bawah dan isi sekuncup mengalami penurunan sampai 40%. Berdiri dalam jangka waktu yang lama dengan tidak banyak bergerak atau hanya diam akan menyebabkan kenaikan volume cairan antar jaringan pada tungkai bawah. Selama individu tersebut bisa bergerak maka kerja pompa otot menjaga tekanan vena pada kaki di bawah 30 mmHg dan alir balik vena cukup (Ganong, 2002). Pada posisi berdiri, pengumpulan darah di vena lebih banyak. Dengan demikian selisih volume total dan volume darah yang ditampung dalam vena kecil, berarti volume darah yang kembali ke jantung sedikit, isi sekuncup berkurang, curah jantung berkurang, dan kemungkinan tekanan darah akan turun. Jantung memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Darah beredar ke seluruh bagian tubuh dan kembali ke jantung begitu seterusnya. Darah sampai ke kaki, dan untuk kembali ke jantung harus ada tekanan yang mengalirkannya. Untuk itu perlu adanya kontraksi otot guna mengalirkan darah ke atas. Pada vena ke bawah dari kepala ke jantung tidak ada katup, pada vena ke atas dari kaki ke jantung ada katup. Dengan adanya katup, maka darah dapat mengalir kembali ke jantung. Jika pompa vena tidak bekerja atau bekerja kurang kuat, maka darah yang kembali ke jantung berkurang, memompanya berkurang, sehingga pembagian darah ke sel tubuh pun ikut berkurang. Banyaknya darah yang di keluarkan jantung itu menimbulkan tekanan, bila berkurang maka tekanannya menurun. Tekanan darah berkurang akan menentukan kecepatan darah sampai ke bagian tubuh yang dituju. Ketika berdiri darah yang kembali ke jantung sedikit. Volume jantung berkurang maka darah yang ke luar dan tekanan menjadi berkurang (Guyton dan Hall, 2002). c. Duduk Sikap atau posisi duduk membuat tekanan darah cenderung stabil. Hal ini dikarenakan pada saat duduk sistem vasokonstraktor simpatis terangsang dan sinyal-sinyal saraf pun dijalarkan secara serentak melalui saraf rangka menuju ke otot-otot rangka tubuh, terutama otot-otot abdomen. Keadaan ini akan meningkatkan tonus dasar otot-otot tersebut yang menekan seluruh vena cadangan abdomen, membantu mengeluarkan darah dari cadangan vaskuler abdomen ke jantung. Hal ini membuat jumlah darah yang tersedia bagi jantung untuk dipompa menjadi meningkat. Keseluruhan respon ini disebut refleks kompresi abdomen (Guyton dan Hall, 2002). Pada beberapa individu terutama orang tua, perubahan posisi yang cepat misalnya dari berbaring ke berdiri bisa menyebabkan tubuh menjadi pusing atau bahkan pingsan. Karena gerakan cepat ini membuat jantung tidak dapat memompa darah yang cukup ke otak (Guyton dan Hall, 1997). Saat terjatuh atau pingsan sebaiknya berada dalam posisi berbaring, yang mana merupakan posisi menguntungkan bagi jantung karena efek gravitasi berkurang dan lebih banyak darah yang mengalir ke otak (Guyton dan Hall, 1997).
4. Hubungan tekanan darah dengan curah jantung Nilai tekanan darah ditentukan oleh perkalian curah jantung dengan tahanan perifer total. Perubahan pada salah satu dari kedua factor tersebut cenderung mengubah tekanan darahnya, jika terjadi kegagalan kedua factor tersebut, maka akan mengakibatkan penurunan tekanan darah (Kusmiyati, 2009). Di bawah ini adalah hubungan dalam diagram alur :
B. Kesanggupan kardiovaskuler
1. Kebugaran kardiovaskuler Dalam bahasa sehari-hari sering disebut dengan kebugaran kardiovaskuler. Istilah kebugaran kardiovaskuler sama pengertiannya dengan beberapa istilah lain seperti daya tahan jantung, kebugaran aerobik, dan daya tahan kardiorespirasi. Kata kardio berarti pembuluh darah dan pembuluh jantung. Sehingga istilah kardiovaskuler lebih tepat daripada kardiorespirasi (Fox, dkk, 1987: 8). Karena respirasi lebih mengacu kepada paru-paru dan pergantian oksigen dan karbondioksida yang terjadi diantara paru-paru, darah dan otot. Menurut Rusli Lutan (2002: 40), kebugaran kardiovaskuler adalah ukuran kemampuan jantung untuk memompa darah yang kaya oksigen ke bagian tubuh lainnya dan kemampuan untuk menyesuaikan serta memulihkan dari aktivitas jasmani. Daya tahan kardiovaskuler menurut Depdikbud (1997: 5) adalah kesanggupan sistem jantung, paru, dan pembuluh darah untuk berfungsi secara optimal pada keadaan istirahat dan kerja dalam mengambil oksigen dan menyalurkan ke jaringan yang aktif sehingga dapat dipergunakan pada proses metabolisme tubuh. Menurut Djoko Pekik (2004: 27), daya tahan paru-jantung adalah kemampuan fungsional paru-jantung mensuplai oksigen untuk kerja otot dalam waktu lama. Sedangkan menurut Mochamad Sajoto (1988: 44), kebugaran kardiovaskuler adalah keadaan di mana jantung seseorang mampu bekeja dengan mengatasi berat beban selama suatu kerja tertentu (Dwi Artya, 2011). Kebugaran kardiovaskuler sangat penting untuk menunjang kerja otot dengan mengambil oksigen dan menyalurkannya keseluruh jaringan otot yang sedang aktif, sehingga dapat digunakan untuk proses metabolisme. Oleh karena itu kebugaran kardiovaskuler dianggap sebagai komponen kebugaran jasmani yang paling pokok. Tujuan untuk meningkatkan kebugaran kardiovaskuler setiap individu berbeda-beda tergantung kebutuhan dan kondisi seseorang. Semakin berat tugas atau kerja fisik seseorang, semakin tinggi pula tingkat kebugaran kardiovaskuler yang harus dimiliki oleh orang tersebut (Dwi Artya, 2011).
2. Tes Harvard Tes Harvard adalah salah satu jenis tes stress jantung untuk mendeteksi atau mendiagnosa penyakit kardiovaskuler. Tes ini juga baik digunakan dalam penilaian kebugaran, dan kemampuan untuk pulih dari kerja berat. Semakin cepat jantung berdaptasi (kembali normal), semakin baik kebugaran tubuh. Tes Harvard adalah cara yang akurat untuk menilai kebugaran untuk menyelesaikan tes aerobik yang maksimal dan mengukur denyut jantung serta konsumsi oksigen yang menggunakan alat bantu pernapasan dan oksigen / karbon dioksida. Tentu saja pendekatan ilmiah ini berada di luar jangkauan bagi banyak orang dan tidak praktis. (Anonim, 2008). Pelaksanaan : Mula mula probandus berdiri didepan Bench / bangku dengan salah satu kaki berada di atas bangku. Saat ada aba-aba “Ya”/ Peluit, probandus melakukan gerakan naik turun bangku ( Lihat Gambar 1). Lakukan gerakan tersebut selama 3-5 menit (menyesuaikan kebutuhan) dengan kecepatan 30 step / menit (gunakan metronome untuk mengukur kecepatan langkah) Pencatatan dilakukan dalam tiga periode: 30 menit setelah istirahat pertama, 30 menit setelah istirahat kedua, 30 menit setelah istirahat ketiga. Kelebihan dan kekurangan tes Harvard: Kelebihan dari Tes Harvard : 1. Peralatannya sederhana; 2. Mudah untuk dilakukan;
Jl. Dr. Soeparno kampus Karangwangkal Purwokerto 53122
Telp. 0281-642840; Email: farmasi.unsoed.gmail.com
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI 1 :
KESANGGUPAN KARDIVASKULER DAN TEKANAN DARAH
MATA KULIAH :
ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA
Nama asisten :
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Judul Praktikum Kesanggupan kardiovaskuler dan tekanan darah
B. Waktu, Tanggal Praktikum Waktu : 15.00 – 16.50 WIB Hari, Tanggal : Sabtu, 24 November 2012
C. Tujuan Praktikum 1. Mengetahui cara-cara pengukuran tekanan darah arteri secara langsung pada manusia serta memahami faktor-faktor yang mempengaruhinya; 2. Mengukur tekanan darah A.brachialis dengan cara auskultasi; 3. Menyebutkan nilai tekanan darah A.brachialis menurut metode lama dan metode baru American Heart Association (AHA); 4. Membandingkan tekanan darah arteri brachialis pada sikap berbaring, duduk, dan berdiri; 5. Menjelaskan perbedaan hasil pengukuran tekanan darah pada sikap berbaring, duduk, dan berdiri; 6. Membandingkan tekanan darah A.brachialis pada berbagai kerja; 7. Mengetahui pengaruh pernafasan dan aliran balik vena terhadap tekanan darah; 8. Mengetahui kesanggupan kardiovaskuler seseorang.
D. Dasar Teori
A. Tekanan arteri pada manusia
1. Pengertian Tekanan darah arteri seperti yang kita ketahui tekanan dalam tubuh manusia terbagi menjadi tekanan darah vena dan tekanan darah arteri. Tekanan darah arteri adalah tekanan yang terjadi pada pembuluh darah arteri dan merupakan proses utama dalam mengedarkan darah ke seluruh jaringan tubuh. Tekanan darah dalam tubuh manusia biasanya diukur berdasarkan dua ukuran. Itulah kenapa ketika mengukur tekanan darah kita akan mendapati dua angka seperti 90/80. Angka tersebut sebenarnya menunjukan 2 tekanan darah yang terjadi dalam pembuluh darah manusia. Angaka pertama dalm ukuran tekanan darah merupakan tekanan darah atas atau tekanan sistolik (Redaksi, 2012). Tekanan sistolik adalah tekanan darah arteri yang diakibatkan oleh aktivitas jantung ketika melakukan pemompaan darah. Sedangkan angka kedua pada ukuran tekanan darah menunjukan tekanan bawah atau tekanan distolik. Tekanan ini menunjukan tekanan pada jantung ketika jantung beristirahat diantara proses pemompaan darah (Redaksi, 2012).
2. Kelainan tekanan darah Kelainan pada tekanan darah arteri dibagi ke dalam dua jenis yaitu tekanan darah tinggi dan tekanan darah rendah. Kedua tekanan darah ini terjadi ketika ketika tekanan darah arteri melebihi atau kurang dari tekanan darah yang normal pada manusia yaitu 90/60 sampai 120/80 mmHg. Tekanan darah rendah biasanya kurang dari 90/60 mmHg. Walaupaun sering diabaikan tapi tekana darah rendah juga bisa mengakibatkan kerusakan pada fungsi organ vital dalam tubuh. Hal ini disebabkan tekanan darah arteri dan vena terlalu lemah untuk menyebarkan oksigen atau nutrisi ke seluruh jaringan organ tubuh. Sehingga organ tidak mendapatkan cukup oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk berfungsi secara normal (Redaksi, 2012).
3. Faktor - Faktor Tekanan Darah
1. Faktor Jenis Kelamin Terdapat beberapa penelitian yang mengungkapkan perbedaan jenis kelamin berpengaruh terhadap kerja sistem kardioaskuler. Dibandingkan dengan laki-laki dengan usia yang sama, wanita premenopause memiliki massa ventriel kiri jantung yang lebih kecil terhadap body mass ratio, yang mungkin mencerminkan afterload jantung yang lebih rendah pada wanita. Hal ini mungkin akibat dari tekanan darah arteri yang lebih rendah, kemampuan complince aorta yang lebih besar dan kemampuan peningkatan penginduksian mekanisme vasodilatasi (Anggita, 2012). Perbedaan ini dianggap berhubungan dengan efek protektif estrogen dan mungkin dapat menjelaskan mengapa pada wanita premenopause memiliki resiko lebih rendah menderita penyakit kardiovaskular. Tetapi, setelah menopause perbedaan jenis kelamin tidak akan berpengaruh pada kemungkinan terderitanya penyakit kardiovaskular. Hal ini mungkin disebabkan karena berkurangnya jumlah estrogen pada wanita yang sudah menopause (Anggita, 2012).
2. Faktor Gravitasi Tekanan darah akan meningkat dengan 10 mmhg setiap 12 cm di bawah jantung karena pengaruh gravitasi. Di atas jantung, tekanan darah akan menurun dengan jumlah yang sama. Jadi dalam keadaan berdiri, maka tekanan darah sistole adalah 210 mmHg di kaki tetapi hanya 90 mmHg di otak. Dalam keadaan berbaring kedua tekanan ini akan sama (Anggita, 2012). Tekanan darah dalam arteri pada orang dewasa dalam keadaan duduk atau posisi berbaring pada saat istirahat kira-kira 120/70 mmHg. Karena tekanan darah adalah akibat dari curah jantung dan resistensi perifer, maka tekanan darah dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang mempengaruhi setiap atau dan isi sekuncup. Besarnya isi sekuncup ditentukan oleh kontraksi miokard dan volume darah yang kembali ke jantung (Anggita, 2012). a. Berbaring Ketika seseorang berbaring, maka jantung akan berdetak lebih sedikit dibandingkan saat ia sedang duduk atau berdiri. Hal ini disebabkan saat orang berbaring, maka efek gravitasi pada tubuh akan berkurang yang membuat lebih banyak darah mengalir kembali ke jantung melalui pembuluh darah. Jika darah yang kembali ke jantung lebih banyak, maka tubuh mampu memompa lebih banyak darah setiap denyutnya. Hal ini berarti denyut jantung yang diperlukan per menitnya untuk memenuhi kebutuhkan darah, oksigen dan nutrisi akan menjadi lebih sedikit (Anggita, 2012). Pada posisi berbaring darah dapat kembali ke jantung secara mudah tanpa harus melawan kekuatan gravitasi. Terlihat bahwa selama kerja pada posisi berdiri, isi sekuncup meningkat secara linier dan mencapai nilai tertinggi pada 40% -- 60% VO2 maksimal. VO2 max adalah volume maksimal O2 yang diproses oleh tubuh manusia pada saat melakukan kegiatan yang intensif. Pada posisi berbaring, dalam keadaan istirahat isi sekuncup mendekati nilai maksimal sedangkan pada kerja terdapat hanya sedikit peningkatan. Nilai pada posisi berbaring dalam keadaan istirahat hampir sama dengan nilai maksimal yang diperoleh pada waktu kerja dengan posisi berdiri. Jumlah isi sekuncup pada orang dewasa laki-laki mempunyai variasi antara 70 -- 100 ml. Makin besar intensitas kerja (melebihi batas 85% dari kapasitas kerja) makin sedikit isi sekuncup; hal ini disebabkan memendeknya waktu pengisian diatole akibat frekuensi denyut jantung yang meningkat (bila mencapai 180/menit maka 1 siklus jantung hanya berlangsung selama 0,3 detik dan pengisian diastole merupakan bagian dari 0,3 detik tersebut) (Ganong, 2002). b. Berdiri Detak jantung akan meningkat saat seseorang berdiri, karena darah yang kembali ke jantung akan lebih sedikit. Kondisi ini yang mungkin menyebabkan adanya peningkatan detak jantung mendadak ketika seseorang bergerak dari posisi duduk atau berbaring ke posisi berdiri (Ganong, 2002). Pada posisi berdiri, maka sebanyak 300-500 ml darah pada
pembuluh ”capacitance” vena anggota tubuh bagian bawah dan isi sekuncup mengalami penurunan sampai 40%. Berdiri dalam jangka waktu yang lama dengan tidak banyak bergerak atau hanya diam akan menyebabkan kenaikan volume cairan antar jaringan pada tungkai bawah. Selama individu tersebut bisa bergerak maka kerja pompa otot menjaga tekanan vena pada kaki di bawah 30 mmHg dan alir balik vena cukup (Ganong, 2002). Pada posisi berdiri, pengumpulan darah di vena lebih banyak. Dengan demikian selisih volume total dan volume darah yang ditampung dalam vena kecil, berarti volume darah yang kembali ke jantung sedikit, isi sekuncup berkurang, curah jantung berkurang, dan kemungkinan tekanan darah akan turun. Jantung memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Darah beredar ke seluruh bagian tubuh dan kembali ke jantung begitu seterusnya. Darah sampai ke kaki, dan untuk kembali ke jantung harus ada tekanan yang mengalirkannya. Untuk itu perlu adanya kontraksi otot guna mengalirkan darah ke atas. Pada vena ke bawah dari kepala ke jantung tidak ada katup, pada vena ke atas dari kaki ke jantung ada katup. Dengan adanya katup, maka darah dapat mengalir kembali ke jantung. Jika pompa vena tidak bekerja atau bekerja kurang kuat, maka darah yang kembali ke jantung berkurang, memompanya berkurang, sehingga pembagian darah ke sel tubuh pun ikut berkurang. Banyaknya darah yang di keluarkan jantung itu menimbulkan tekanan, bila berkurang maka tekanannya menurun. Tekanan darah berkurang akan menentukan kecepatan darah sampai ke bagian tubuh yang dituju. Ketika berdiri darah yang kembali ke jantung sedikit. Volume jantung berkurang maka darah yang ke luar dan tekanan menjadi berkurang (Guyton dan Hall, 2002). c. Duduk Sikap atau posisi duduk membuat tekanan darah cenderung stabil. Hal ini dikarenakan pada saat duduk sistem vasokonstraktor simpatis terangsang dan sinyal-sinyal saraf pun dijalarkan secara serentak melalui saraf rangka menuju ke otot-otot rangka tubuh, terutama otot-otot abdomen. Keadaan ini akan meningkatkan tonus dasar otot-otot tersebut yang menekan seluruh vena cadangan abdomen, membantu mengeluarkan darah dari cadangan vaskuler abdomen ke jantung. Hal ini membuat jumlah darah yang tersedia bagi jantung untuk dipompa menjadi meningkat. Keseluruhan respon ini disebut refleks kompresi abdomen (Guyton dan Hall, 2002). Pada beberapa individu terutama orang tua, perubahan posisi yang cepat misalnya dari berbaring ke berdiri bisa menyebabkan tubuh menjadi pusing atau bahkan pingsan. Karena gerakan cepat ini membuat jantung tidak dapat memompa darah yang cukup ke otak (Guyton dan Hall, 1997). Saat terjatuh atau pingsan sebaiknya berada dalam posisi berbaring, yang mana merupakan posisi menguntungkan bagi jantung karena efek gravitasi berkurang dan lebih banyak darah yang mengalir ke otak (Guyton dan Hall, 1997).
4. Hubungan tekanan darah dengan curah jantung Nilai tekanan darah ditentukan oleh perkalian curah jantung dengan tahanan perifer total. Perubahan pada salah satu dari kedua factor tersebut cenderung mengubah tekanan darahnya, jika terjadi kegagalan kedua factor tersebut, maka akan mengakibatkan penurunan tekanan darah (Kusmiyati, 2009). Di bawah ini adalah hubungan dalam diagram alur :
B. Kesanggupan kardiovaskuler
1. Kebugaran kardiovaskuler Dalam bahasa sehari-hari sering disebut dengan kebugaran kardiovaskuler. Istilah kebugaran kardiovaskuler sama pengertiannya dengan beberapa istilah lain seperti daya tahan jantung, kebugaran aerobik, dan daya tahan kardiorespirasi. Kata kardio berarti pembuluh darah dan pembuluh jantung. Sehingga istilah kardiovaskuler lebih tepat daripada kardiorespirasi (Fox, dkk, 1987: 8). Karena respirasi lebih mengacu kepada paru-paru dan pergantian oksigen dan karbondioksida yang terjadi diantara paru-paru, darah dan otot. Menurut Rusli Lutan (2002: 40), kebugaran kardiovaskuler adalah ukuran kemampuan jantung untuk memompa darah yang kaya oksigen ke bagian tubuh lainnya dan kemampuan untuk menyesuaikan serta memulihkan dari aktivitas jasmani. Daya tahan kardiovaskuler menurut Depdikbud (1997: 5) adalah kesanggupan sistem jantung, paru, dan pembuluh darah untuk berfungsi secara optimal pada keadaan istirahat dan kerja dalam mengambil oksigen dan menyalurkan ke jaringan yang aktif sehingga dapat dipergunakan pada proses metabolisme tubuh. Menurut Djoko Pekik (2004: 27), daya tahan paru-jantung adalah kemampuan fungsional paru-jantung mensuplai oksigen untuk kerja otot dalam waktu lama. Sedangkan menurut Mochamad Sajoto (1988: 44), kebugaran kardiovaskuler adalah keadaan di mana jantung seseorang mampu bekeja dengan mengatasi berat beban selama suatu kerja tertentu (Dwi Artya, 2011). Kebugaran kardiovaskuler sangat penting untuk menunjang kerja otot dengan mengambil oksigen dan menyalurkannya keseluruh jaringan otot yang sedang aktif, sehingga dapat digunakan untuk proses metabolisme. Oleh karena itu kebugaran kardiovaskuler dianggap sebagai komponen kebugaran jasmani yang paling pokok. Tujuan untuk meningkatkan kebugaran kardiovaskuler setiap individu berbeda-beda tergantung kebutuhan dan kondisi seseorang. Semakin berat tugas atau kerja fisik seseorang, semakin tinggi pula tingkat kebugaran kardiovaskuler yang harus dimiliki oleh orang tersebut (Dwi Artya, 2011).
2. Tes Harvard Tes Harvard adalah salah satu jenis tes stress jantung untuk mendeteksi atau mendiagnosa penyakit kardiovaskuler. Tes ini juga baik digunakan dalam penilaian kebugaran, dan kemampuan untuk pulih dari kerja berat. Semakin cepat jantung berdaptasi (kembali normal), semakin baik kebugaran tubuh. Tes Harvard adalah cara yang akurat untuk menilai kebugaran untuk menyelesaikan tes aerobik yang maksimal dan mengukur denyut jantung serta konsumsi oksigen yang menggunakan alat bantu pernapasan dan oksigen / karbon dioksida. Tentu saja pendekatan ilmiah ini berada di luar jangkauan bagi banyak orang dan tidak praktis. (Anonim, 2008). Pelaksanaan : Mula mula probandus berdiri didepan Bench / bangku dengan salah satu kaki berada di atas bangku. Saat ada aba-aba “Ya”/ Peluit, probandus melakukan gerakan naik turun bangku ( Lihat Gambar 1). Lakukan gerakan tersebut selama 3-5 menit (menyesuaikan kebutuhan) dengan kecepatan 30 step / menit (gunakan metronome untuk mengukur kecepatan langkah) Pencatatan dilakukan dalam tiga periode: 30 menit setelah istirahat pertama, 30 menit setelah istirahat kedua, 30 menit setelah istirahat ketiga. Kelebihan dan kekurangan tes Harvard: Kelebihan dari Tes Harvard : 1. Peralatannya sederhana; 2. Mudah untuk dilakukan;



